Wednesday, January 21, 2015

Vending Mesin Bitcoin Hadir di Bali, Apa Bedanya dengan ATM?


NEFOSNEWS, Jakarta – Meski belum dinyatakan legal, Bitcoin Indonesia nekad memboyong satu unit mesin mirip ATM yang disebut vending mesin, ke Kuta, Bali. Mesin ini akan memfasilitas pembelian dengan mata uang virtual. Berbeda dari ATM?

“Yang kami bawa ke Indonesia bitcoin vending mesin. Ini belum dioperasikan. Kami tunggu Bank Indonesia (BI) karena masih ada beda pemahaman. Jadi bukan ATM, ini menurut kami bisa membantu masyarat yang tidak punya akses ke bank,” kata CEO Bitcoin Indonesia, Oscar Darmawan, di Jakarta, Selasa (9/9).

Oscar menjelaskan, vending mesin berfungsi sebagai mesin pembelian barang. Sedangkan persepsi masyarakat Indonesia, ATM hanya bisa untuk mengambil uang atau bertransaksi pindah rekening.
“Di kita ATM itu kan mesin uang, kalau di luar negeri ATM beda, bisa berfungsi sebagai mesin pembelian barang (vending mesin).”

Untuk bisa mengoperasikan mesin sejenis ATM ini, Oscar mengaku akan meminta izin ke BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia memastikan, alat tukar virtual ini tidak diniatkan untuk menyaingi rupiah, tapi lebih menyerupai prinsip logam mulia.
“Dari regulator harus jelas, Bitcoin itu apa, barang atau mata uang. Kalau di Singapura dianggap barang,” tambahnya.

Sebelumnya, BI pernah menegaskan Bitcoin ataupun mata uang virtual lainnya bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia. Pengguna Bitcoin harus menanggung risiko sendiri jika terjadi kerugian, bahkan bisa diancam pidana.

Penegasan tersebut disampaikan BI merujuk pada Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang serta UU Nomor 23 Tahun 1999 yang telah diubah beberapa kali dan terakhir dengan UU Nomor 6 Tahun 2009.

Di Indonesia, transaksi Bitcoin belum terlalu besar. Per hari ada penukaran rupiah ke Bitcoin hingga US$ 50 ribu. Kurs 1 Bitcoin setara dengan Rp 5,6 juta.

Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia tidak mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah, demikian pula dengan Thailand. Tetapi Singapura bersikap lebih terbuka dengan membolehkan transaksi Bitcoin, asalkan pihak-pihak yang terlibat membayar pajak ketika Bitcoin ditukarkan ke mata uang, produk, atau jasa sungguhan.

Di Jerman, Bitcoin diakui sebagai mata uang swasta. Sedangkan di Amerika Serikat dan Kanada, mata uang ini sudah biasa digunakan di kalangan bisnis dan perbankan.Nefonews
Bitcoin pertama kali ditemukan pada 2009 oleh hacker dengan nama samaran Satoshi Nakamoto. Uang ini menggunakan algoritma rahasia, yang hanya diketahui oleh segelintir hacker.

Dengan Bitcoin dimungkinkan melakukan transaksi anonim alias tanpa mengungkapkan identitas Anda sama sekali. Tidak ada nama pemilik atau informasi apapun yang bisa diketahui oleh merchant ataupun orang lain. Hal ini sangat berbeda dengan transaksi online konvensional seperti transfer bank yang membutuhkan nama lengkap dan identitas pendukung. Karena sifatnya yang sangat rahasia, Bitcoin pernah beberapa kali terbukti digunakan dalam transaksi obat-obatan terlarang. (anila)


SUMBER

Pemerintah Bisa Tarik Pajak dari Bitcoin

Bitcoin-tax-via-Michael-Carney-Pandodaily

Jakarta -Meski dianggap ilegal oleh Bank Indonesia (BI), Bitcoin berusaha diakui sebagai sebuah produk yang bisa beredar dengan baik di Indonesia. Eksistensi Bitcoin ini bisa dicapai dengan cara ditarik pajak oleh Pemerintah.

Setidaknya itulah harapan CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan. Belakangan ini, nama Bitcoin muncul ke tengah-tengah masyarakat dan dikenal sebagai komoditas digital bahkan ada yang menyebutnya sebagai alat tukar digital.

Namun, sejauh ini baik pemerintah maupun otoritas sektor keuangan seperti BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum mau memberi label Bitcoin sebagai produk tertentu. Bahkan menolak Bitcoin sebagai alat tukar.

Oscar Darmawan mengaku, keberadaan Bitcoin di Indonesia perlu pengakuan dari pemerintah atau otoritas terkait. Pasalnya, ini menyangkut transaksi yang dilakukan masyarakat secara massal. Ditambah, Bitcoin ini bisa ditukar dengan nilai rupiah.

“Keberadaan Bitcoin di Indonesia masih dipertanyakan. Kita sedang menunggu izin dari BI. Bagi kami Bitcoin merupakan barang atau komoditas digital. Bitcoin bukan sebagai alat tukar hanya sebagai komoditas digital,” kata Oscar saat ditemui di acara IDC Financial Insights Financial Services Summit 2014, di Hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta, Selasa (9/9/2014).

Menurutnya, BI sebagai salah satu otoritas di sektor keuangan perlu turun tangan untuk memperjelas status keberadaan Bitcoin di Indonesia.
“Kuncinya di bank sentral. Statusnya apa di bank sentral. Sampai sekarang kan baru menyatakan Bitcoin bukan mata uang. Sekarang kan ada Bappebti, OJK, dan Kementerian Informasi dan Teknologi, mereka mau mengatur Bitcoin tapi belum jelas,” katanya
Lebih jauh Oscar mengatakan, keberadaan Bitcoin ini sudah lebih dulu diramaikan di Singapura. Di sana, kata dia, Bitcoin disebut sebagai komoditas digital dan bisa ditarik pajak.

Menurutnya, Indonesia mungkin bisa menerapkan sistem yang sama. Pemerintah atau otoritas memberi kejelasan status Bitcoin setelah itu terapkan pajak atas Bitcoin tersebut.
“Yang kita harapkan seperti di Singapura. Pemerintah Singapura memanfaatkan Bitcoin ini untuk mendapatkan pajak, transaksinya US$ 500 ribu Bitcoin per hari, ini potensinya tinggi,” ujar dia.

Oscar juga menyebutkan jika transaksi Bitcoin juga memberikan keuntungan layaknya investasi. Sebagai contoh, seorang investor Facebook membeli Bitcoin di harga US$ 11 juta pada 11 April 2013. Kemudian, pada September 2014 nilai Bitcoin melonjak drastis hingga US$ 44 juta atau meroket 400%.
“Makanya disamakan dengan emas. Tapi bukan investasi, kalau investasi kan naik karena performa perusahaan. Kesamaan kenapa dengan emas karena punya nilai, dan permintaan banyak barangnya dikit. Yang menentukan nilai Bitcoin naik atau turun adalah masyarakat dan kepercayaan sama halnya emas karena kita percaya,” terang dia.

Untuk itu, Oscar menargetkan untuk bisa meningkatkan transaksi Bitcoin di Indonesia bisa mencapai 1.000-2.000 Bitcoin per hari atau jauh lebih tinggi dari saat ini yang hanya 50-100 Bitcoin per hari.
“Target perputaran di Indonesia 1.000-2.000 Bitcoin per hari, di Indonesia baru 50-100 Bitcoin per hari, kenapa Singapura bisa tinggi karena regulasi jelas. Di Singapura dianggap komoditas bukan mata uang, bank sentral Singapura ngatur ini,” tandasnya.

Bitcoin merupakan salah satu dari banyak cryptocurrency yang beredar di dunia maya, juga salah satu yang paling beken. Beberapa negara ada yang sudah menerima Bitcoin dengan merestui transaksi di beberapa perusahaan.


SUMBER

Progdi Sistem Informasi Unika Gelar Seminar Peluang Pendanaan Industri Kreatif


SEMARANG, suaramerdeka.com – Program Studi Sistem Informasi dan Game Technology Unika Soegijapranata Semarang menggelar seminar Peluang Pendanaan Industri Kreatif, akhir pekan lalu.
Hadir sebagai pembicara adalah  Shinta Witoyo Dhanuwardoyo (CEO Bubu.com), Oscar Darmawan (CEO Bitcoin Indonesia), serta Leocadia dan Nathasia (mahasiswa Game Technology Unika Soegijapranata).

Seminar ini merupakan kegiatan rutin tahunan Festival Game and Entrepreneur yang telah diselenggarakan sejak tahun 2011 dengan tujuan mendorong potensi industri kreatif di Jawa Tengah terutama di Semarang.

Dalam sesi pertama, Leocadia dan Nathasia menyampaikan proses adaptasi cerita silat Mahesa Jenar ke dalam bentuk game berbasis Android. Proses eksplorasi tersebut juga akan dipresentasikan pada konferensi internasional di Bangkok awal Desember nanti.

Adapun Oscar Darmawan memberikan sesi edukasi teknologi dalam Bitcoin yang dapat digunakan untuk pengembangan industri kreatif. Pada akhir sesi seminar, Shinta Witoyo yang saat ini aktif sebagai angel investor memaparkan berbagai peluang pendanaan untuk industri kreatif untuk pengembang teknologi informasi.

Di sela-sela acara seminar juga ditayangkan karya-karya game edukasi dari mahasiswa dan guru-guru sekolah di Semarang. Terpilih sebagai karya terbaik versi guru sekolah adalah Dra. MC Sri Lestari (sekolah Kebon Dalem YPII) dengan karya game “Budi Pekerti” dan Berlina T, SSi (sekolah YSKI) dengan karya game “Istana Bangun Datar”.

Dua karya terbaik game edukasi versi mahasiswa direbut oleh tim Yeremia Greato-Satrya dan Celvin Laviano. Keduanya menyajikan konten pembelajaran dalam bentuk permainan yang menarik.
Menurut Daniel Sigit, ketua panitia dan president Game Club Unika Soegijapranata, penghargaan karya terbaik ini selalu diberikan rutin setiap tahunnya dalam Festival Game and Entrepreneur. Khusus tahun ini, melibatkan guru-guru sekolah di Semarang yang menjadi peserta workshop Pengembangan Game Edukasi yang diadakan oleh GameBelajar.com.

Ketua Program Studi Brenda Chandrawati, MT menambahkan bahwa pihaknya sangat terbuka membantu sekolah-sekolah yang berminat mengembangkan game pembelajaran sebagai kewirausahaan sekolah.

(Andika Primasiwi/ CN26 / SM Network)


SUMBER